SELAMAT DATANG DI INFO DPD PKS MUSI BANYUASIN SUMATERA SELATAN

PKS MUBA BAGI 2000 MINYAK WANGI

Read more »

Menuai Buah Keikhlasan

Read more »

Mendengar dan Bekerja

Oleh : Musheni,S.Pd.I (Sekum PKS Muba)

Ada yang menarik pada masa reses IV tahun 2010-2011 kali ini. Anggota DPR RI yang juga ketua Fraksi PKS Mustafa Kamal,S.s yang sering kami panggil dengan sebutan Bang Kamal di daerah pemilihan I yakni Palembang,Banyuasin,Musi Banyuasin,Musi Rawas dan Lubuk Linggau. Menariknya adalah hadirnya berbagai laporan mengenai berbagai agenda Fraksi PKS di DPR RI. Laporan tersebut tidak hanya berbentuk lisan,juga berbentuk tertulis sehingga memberikan catatan tersendiri bagi konstituen dan kader. Apa yang dikerjakan untuk kepentingan masyarakat ?
Mengali Aspirasi Konstituen
Kegiatan di Musi Banyuasin diawali dengan pemotongan hewan kurban pada tanggal 7 November. Kegiatan proses penyerapan aspirasi pada tanggal 12 November 2011 yang juga dirangkaikan pelantikan pengurus DPRa di dalam wilayah kecamatan Bayung Lencir. Pada acara tersebut yang dihadiri oleh Ketua Komisi I Aleg Provinsi Erza Saladin,ST, kemudian Aleg DPRD Muba Iwan Aldes,S.sos dan juga Ketua DPD PKS Muba Dear Fauzul Azim,ST serta Ketua DPC PKS Bayung Lencir M. Teguh Pajeri,A.Md. Bertempat di Aula kelurahan Bayung Lencir, kader PKS dan konstituen menyampaikan berbagai pesan untuk kemajuan dan terwujudnya cita-cita masyarakat yang lebih baik.
Sebelum mendengarkan aspirasi dari kader dan konstituen, Erza Saladin,ST yang juga wakil ketua DPW PKS Sumsel memberikan nasehat kepada peserta. Pertama, “dalam konteks suasana Dzulhijjah 1432 H ini marilah kita meneladani Nabi Ibarahim as. Yang mana, dalam keluarga beliau patut kita teladani. Di sana ada seorang anak yang bernama Ismail yang sabar dan beriman kepada Allah swt saat ujian datang. Demikian pula dengan isterinya yang bersedia tinggal ditempat yang tandus atas landasan keimanan pada-Nya,” terangnya.
Kedua, memasuki tahun 2012 ini PKS menjadikan sebagai tahun perluasan pelayanan,amal kerja kepada masyarakat. “ mari kita bergandengan tangan dengan masyarakat untuk memperbaiki di berbagai lini kehidupan masyarakat,” jelas Erza. Ketiga, dalam proses demokrasi sangat wajar jikalau PKS bercita-cita untuk membesarkan gerbong yakni masuk dalam tiga besar. “ dengan usaha yang berkelanjutan,penguatan struktur di berbagai level maka bukanlah sebuah mimpi kita masuk di tiga besar,” teranya. Keempat, dengan dinamika yang ada, PKS siap menerima kritik sehingga dari sana akan terwujud kerja-kerja yang dinamis dan berkelanjutan untuk kemaslahatan masyarakat. Kelima, dalam melaksanakan agenda kepertaian, tentunya perlunya ada agenda yang menyentuh masyarakat secara langsung.
Walaupun Bang Kamal sendiri berhalangan hadir dalam pertemuan tersebut, makna dari acara serapan aspirasi tersebut tidak mengurangi antusias peserta. Karenanya, kader dan simpatisan menyampaikan berbagai pokok persoalan yang sedang terjadi di masyarakat. Apalagi keberadaan Aleg di tingkat Provinsi dan Kabupaten menjadi tempat sumbang dan saran kader. Pertama, keinginan kader dan konstituen memahami lebih jauh tentang PKS dalam produk cita-cita kebangsaan dan masyarakat. Kedua, pada umumnya masyarakat petani sangat mengharapkan adanya distribusi secara merata dalam mendapatkan bantuan bibit karet atau sawit bagi petani. Ketiga, kader dan simpatisan sangat mengharapkan adanya kelengkapan atribut partai yang lebih baik lagi seperti Kartu Tanda Anggota ( KTA ) dan lain sebagainya. Keempat, perlu adanya pendidikan politik dalam kaca mata partai secara masif dan kontinuitas. Sehingga, kader-kader partai mampu memahami dengan benar arah perjuangan kerakyatan yang membumi. Dari empat poin besar harapan kader dan simpatisan tersebut, tentunya direspon secara positif oleh struktur dan Anggota DPRD baik itu tingkat provinsi maupun kabupaten.
Bekerja Untuk Rakyat
Pada akhirnya, kerja dan kinerja partai bukanlah pekerjaan satu atau dua orang. Partai adalah sarana bagi anak bangsa dalam konteks konstitusi untuk memperjuangkan hak-hak bagi rakyat. Pada aspek inilah, laporan kerja dan kinerja DPR RI di hadapan kontituen menjelaskan bahwa fungsi dewan sebagai penyambung lidah rakyat. Ada sebelas komisi di DPR RI, dari berbagai komisi tersebut ada berbagai rancangan Undang-Undang untuk kepentingan pokok rakyat. Fraksi PKS memastikan bahwa berada di pihak yang mendorong terlaksananya kehendak rakyat,bukan kepentingan kelompok. Sebagai contoh ; di dalam rancangan UU Pemilu di dorong Parlementry Treshold ( PT ) antara 2,5- 3 % dengan harapan tidak besarnya suara yang hilang karena beberapa partai kecil tidak lolos bila PT di angka 4 – 5 %.
Dalam UU Intelijen yang telah disahkan, juga demikian dorongan yang kuat atas hak-hak asasi dasar sebagai masyarakat. Fraksi PKS juga ikut mendorong konsentrasi kerja Intelijen pada core business intelijen yakni informasi, bukan pada penegak hukum atau mempunyai legitimasi penangkapan dan penahanan sebagai mana pasal 34.
Kemudian, FPKS berpendapat bahwa Korupsi itu musuh bersama dan bahaya laten bagi bangsa. Makanya institusi lain juga harus dioptimalkan, seperti kejak¬saan dan kepolisian. Kritik yang dilontarkan oleh Fahri Hamzah justru dalam rangka penguatan KPK agar fokus dengan tugas utamanya untuk melakukan supervisi terhadap lembaga Kepolisian dan Kejaksaan agar pemberantasan korupsi lebih berjalan secara masif dan berskala besar.
Di bidang pendidikan, Fraksi PKS mendorong agar pemerintah harus membuat mekanisme pengawasan yang efektif untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan penggunaan dana BOS. Apalagi, untuk tahun 2012 ini, dana BOS berbentuk blockgrant (hibah) yang tidak memerlukan pembuatan Rencana Kerja Anggaran (RKA) terlebih dahulu. Karena tidak adanya RKA, bisa saja, pihak sekolah menggunakan dana BOS ini tidak sesuai peruntukkannya. Oleh karena itu, perlu aturan hibah, menyangkut penggunaan dana BOS. Lebih dari itu, yang paling krusial adalah perilaku dan moral aparat penyelenggara pendidikan. Sebaik apapun mekanisme dan model penyaluran BOS, jika perilaku dan moral aparatnya masih rendah, potensi terjadinya pelanggaran masih mungkin bisa terjadi.
Permasalahan pungutan kepada siswa dengan celah adanya klausul tentang “atas hasil musyawarah dengan pihak komite”. Sering kali, pihak sekolah “memanfaatkan” pihak komite untuk melakukan pungutan kepada siswa. Dengan klausul ini, pihak sekolah berdalih bahwa bukan sekolah yang memungut dana dari orang tua atau siswa, tetapi atas hasil musyawarah dengan pihak komite. Sehingga di lapangan kita jumpai, atas nama komite, pihak sekolah memungut uang ekstra kurikuler, uang bimbingan belajar, uang LKS, dan uang membangun sarana olah raga, dan sebagainya. Oleh karenanya, dalam aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah nantinya, harus betul-betul menutup adanya celah pungutan.

Harian Musi Banyuasin, Desember 2011
Read more »

Sekedar Saja !

Oleh : Musheni,S.Pd.I (Sekum PKS Muba)

Saat penulis melakukan perjalanan di desa-desa dalam kecamatan Lais, ada sesuatu yang menarik untuk dibagi dalam cerita tulis ini. Perjalanan saya sendiri dalam rangka melakukan pemasangan papan nama pengurus Ranting Partai Keadilan Sejahtera ( PKS ). Secara kerja, bahwa perjalanan tersebut mempunyai misi dalam pelaksanaan kerja. Akan tetapi, di balik itu semua ada nilai rekreasi yang terselip di dalam perjalanan itu sendiri. Apakah di Lais ada sesuatu yang bisa dijadikan objek wisata, sehingga membuat perjalanan bagaikan berwisata ?
Tiga Dimensi Perjalanan
Berwisata tentunya mempunyai fungsi sebagai sarana memberikan semangat baru di sela-sela rutinitas. Karenanya, rutinitas tanpa ada rehat sejenak bisa menimbulkan kebosanan dan pada akhirnya kebosanan akan menyebabkan rendahnya semangat dalam melakukan aktivitas. Dari itulah bahwa rekreasi merupakan kebutuhan “pokok” agar jiwa tetap segar dan mempunyai semangat dalam mengolah rasa. Field trip atau perjalanan juga berfungsi menghibur. Dengan cara menikmati perjalanan yang nyaman dan memahami hal-hal baru atas objek alam. Ada beberapa kandungan makna dari setiap perjalanan yang saya penulis sebutkan berikut ini.
Pertama, perjalanan akan memberikan pengenalan dalam aspek geografis. Dengan field trip sudah barang tentu akan mengenalkan pada wilayah-wilayah baru yang dengan itu memberikan ilmu dan pengalaman. Di Lais ada Jembatan yang bila di kemas dengan baik bisa menjadikan objek wisata, ada objek vital negara seperti lokasi sumur minyak di Bonot, kelompok tani ternak sapi di areal perkebunan kelapa sawit, belum lagi rumah rakit di Sungai Batang Hari Leko di desa Petaling. Kesemuaanya itu indah dan sumber inspirasi dan rekreasi jiwa.
Beberapa tempat yang penulis sebutkan belum lagi termasuk di beberapa kecamatan lain yang bisa dijadikan sebagai objek ‘wisata’, seperti di Babat Toman ada bekas kantor pengeboran minyak yang tidak lagi digunakan. Objek tersebut berpotensi untuk dimuseumkan bila memang tidak lagi berfungsi sehingga Muba nantinya dikenal sebagai “Museum minyak.” Di daerah Macang Sakti juga ada objek vital negara dan diberbagai kecamatan lainnya yang tidak saya sebutkan satu persatu. Potensi ini merupakan modal untuk mengembangkan menuju kota “wisata”.
Kedua, perjalanan dalam aspek mengunjungi akan memberikan penambahan dalam aspek sastra. Coba kita pahami secara seksama bahwa bahasa ibu dari satu kecamatan dengan kecamatan mempunyai perbedaan minimal dalam hal irama pelafalannya. Bahasa Sanga Desa “dari “ dilafalkan dengan kata “ Jak mane ” artinya “ dari mana”,kalau kecamatan Sungai Keruh menyebutkan dari itu dengan irama panjang “ daiii mane “. Dalam aspek sastra dan bahasa Musi Banyuasin punya hal itu, punya khas. Ada suku Jawa,Sekayu,Lintang ,Bugis dan lain sebagainya.
Ketiga, perjalanan dalam aspek histori jelas mempunyai kandungan hal itu. Sejarah terjadinya pertempuran di Sungai Guci, pertempuran di Seberang Sekayu yang dipimpin A Kosim Dhayat menghadang Jepang, pertempuran di Sungai Lengahan dan beberapa tokoh-tokoh pejuang yang masih hidup. Aspek historis juga bukan monopoli tentang perjuangan para pejuang,juga ada historis perkembangan agama Islam. Ada pondok pesantren warisan dari KH. Rasyd Sidik di desa Napal,masjid-masjid tua yang cukup besar seperti di desa Kemang dan masih banyak lokasi-lokasi yang mengandung makna historis yang bisa memberikan spirit kepada generasi muda tentang makna perjalanan kehidupan.
Tiga aspek tersebut bukan sekedar memberikan spirit baru karena mengenal hal-hal baru. Akan tetapi, tiga aspek tersebut menjadi motivasi untuk melanjutkan pesan-pesan sejarah, sastra dan menjaga eksotis geografisnya. Hal ini akan semakin kuat pengaruhnya manakalah ada kesadaran kolektif pemerintah untuk menjadikan isue ini sebagai konsep. Konsep dasar dalam arah pembangunanya. Tidak terjebak dalam nilai rekreasi konvensional atau terfokus pada satu tempat rekreasi yang cendrung konsumtif.
Bukan Sekedar Jalan
Bila perjalanan dari satu daerah ke daerah lainnya lancar,tanpa ada halangan jalan. Serta bagusnya infrastruktur jalan raya dan jalan-jalan desa. Contoh : dari sekayu menuju desa Air Balui kecamatan Sanga Desa selain jalan poros tenggah juga ada jalan tembus melewati Kecamatan Plakat Tinggi yang cukup baik. Dahulunya, jalan ini berlumpur dan tidak bisa dilalui di Musim hujan. Dari sana bisa langsung menuju kota Lubuk Linggau atau Musi Rawas.
Kemudian, berfungsinya infrastruktur umum seperti tempat singgah yang sehat dan bersih. Masjid-masjid yang berada di pinggir jalan raya untuk diprioritaskan pembanggunan lahan parkir dan cukup baiknya water closed ( WC ). Pinggiran sungai Musi dibangun turap yang sederhana dan merata terutama di kota Sekayu yang berarti juga mengantisipasi erosi dan longsor.
Jadi kata kuncinya adalah terletak pada infrastruktur dasar. Infrastruktur yang memberikan rasa nyaman kepada pengunjung / masyarakat. Anak-anak sekolah seringkali berwisata keluar kota, tetapi lupa bahwa di Muba sendiri banyak sekali lokasi yang sangat patut untuk dikunjungi oleh anak-anak sekolah sehingga memberikan inspirasi positif. Sebagai contoh di desa Suban kecamatan Batang Hari Leko ( BHL ) terdapat lokasi sumur minyak yang bila dikunjungi akan mendapatkan informasi mengenai aktivitas mendapatkan minyak sebagai sumber energi. Dan beberapa tempat lainnya juga demikian. Akan tetapi, salah satu penghambatnya adalah jalan. Buruknya jalan menuju lokasi sehingga tidak memungkinkan bila kendaraan biasa seperti bus bisa menuju lokasi tersebut. Memang selama ini menjadi lokasi “offroad” yang paling pupuler,sehingga mobil-mobil khusus saja yang bisa melewati jalan tersebut.
Demikian konsep membangun lokasi rekreasi tidak terfokus pada satu lokasi. Pembangunan yang hanya memperhatikan keperluan rekreasi konvensional akan menimbulkan ketimpangan saja secara sosial,ekonomi dan budaya. Rekreasi tidak identik dengan nilai konsumtif dan degradatif moral masyarakat. Menurut penulis, langkah pertama yang bisa mengundang investor untuk membantu pembangunan kerakyatan yakni dengan memperbaiki infrastruktur dasar seperti jalan. Selain diperlukan untuk kelancaran dalam keperluan usaha masyarakat, juga akan membantu penyebaran penduduk secara merata. Kalau jalan-jalan bagus dan lancar di berbagai penjuru desa maka sebaran pertumbuhan rumah-rumah warga akan semakin merayta serata bagusnya jalan. Penulis yakin banyak pengunjung yang akan hadir ke bumi Serasan Sekate bukan sekedar saja, tetapi juga mengeliatkan ekonomi kerakyatan.
Read more »

Mereka Yang Sukses

Oleh : Musheni,S.Pd.I (Sekum PKS Muba)

Pada tanggal 18 Muharam 1433 H atau 14 Desember 2011, saya mendapatkan undangan dari pengurus Masjid At-taqwa desa Sugi Raya kecamatan Babat Toman untuk memberikan tausiah seputar tahun baru Islam. Jamaah yang hadir cukup representatif dari jumlah penduduk desa yang mempunyai Kepala Keluarga ( KK ) tidak lebih dari sekitar saratus KK. Hadir dalam acara Kepala Desa Sugi Raya Bpk. Amran, Kemudian P3 N ustd. Muhammad Daud dan toko agama/ masyarakat serta pemuda-pemudi serta anak-anak. Hanya dua pesan yang saya sampaikan dalam acara tersebut. Pertama, sejarah lahirnya kalender Hijriah. Kedua, hikmah dari pergantian tahun baru dalam Islam dari 1432 H menjadi 1433 H.
Sejarah Tahun Hijriah
Pada tahun 682 Masehi, khalifah Umar bin Khattab melihat permasalahan yang ada dalam administrasi negara Islam. Luasnya wilayah kekuasaan Islam menyebabkan tidak samanya dalam sistem penangalan antar satu daerah dengan daerah lainnya. Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab dan para sahabatnya merasa perlu membuat sistem penanggalan yang akan diberlakukan di seluruh wilayah kekuasaan Islam.
Adapun bulan-bulan yang disepakati sama dengan bulan-bulan yang berlaku kaum khurais di masa kenabian yakni bulan qamariah. Bulan-bulan tersebut secara berurutan adalah Muharram, Safar, rabiul awal, rabiul akhir, , Jumadil awal, jumadil akhir, rajab, sya’ban, ramadhan,syawal,dzulhijjah dan dzulqaidah. Hanya saja di dalam kalender kaum khurais terdapat praktek interkelasi ( nasi ). Praktek ini dimungkinkan adanya penambahan bulan ke-13 dalam satu tahun. Adapun adanya praktek interkelasi ini seringkali disalah gunakan untuk membuat musim haji berlaku dua kali dalam satu tahun. Sehingga, perniagaan mendapatkan keuntungan yang lebih besar di musim haji. Pada tahun ke-10 setelah hijrah, Allah menurunkan ayat yang melarang praktek Nasi' ini:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram..." [At Taubah (9): 38]
"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah... " [At Taubah (9): 39]
Bulan-bulan dalam kalender qamariah mempunyai makna keadaan musim saat itu seperti rabiul awal awal artinya musim semi pertama, ramadhan artinya musim panas. Adapun empat bulan haram dilarangnya peperangan atau pertumpahan darah dilarang yakni Muharam, Rajab,Dzulhijjah dan Dzulqaidah.
Setelah adanya kesepakatan sistem penanggalan yang seragam, Majelis yang dibentuk oleh Khalifah Umar bin Khatab mencari moment sebagai permulaan penangalan dalam pengangalan Islam. Diantara berbagai alternatif menjadikan permulaan penanggalan yakni hari lahir Nabi Muhammad saw, atau tanggal wafatnya beliau, ada pula yang mengusulkan hari kemenangan kaum muslimin dalam peperangan. Akhirnya, Dewan penasehat khalifah Umar menyepakati bahwa permulaan penanggalan dalam Islam yakni peristiwa Hijrah Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah. Sehingga, kalender tersebut dimulai 1 Muharram tahun peristiwa Hijrah atau bertepatan pada tanggal 16 Juli 662 M. Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad saw sendiri berlangsung pada bulan Rabiul awal 1 H atau september 622 Masehi.
Pemilihan peristiwa Hijrah ini sebagai tonggak awal penanggalan islam memiliki makna yang amat dalam. Seolah-olah para sahabat yang menentukan pembentukan kalender islam tersebut memperoleh petunjuk langsung dari Allah. Seperti Nadwi yang berkomentar:
"Ia (kalender islam) dimulai dengan Hijrah, atau pengorbanan demi kebenaran dan keberlangsungan Risalah. Ia adalah ilham ilahiyah. Allah ingin mengajarkan manusia bahwa peperangan antara kebenaran dan kebatilan akan berlangsung terus. Kalender islam mengingatkan kaum muslimin setiap tahun bukan kepada kejayaan dan kebesaran islam namun kepada pengorbanan (Nabi dan sahabatnya) dan mengingatkan mereka agar melakukan hal yang sama."

Hikmah Pergantian Waktu
Dalam perputaran waktu, sedikit diantara kita menyadari makna hakiki tentang waktu. Padahal, waktu bagi sebagian orang-orang yang sukses adalah modal yang paling mahal. Dalam majalah Tarbawi edisi Muharam 1433 atau Desember 2011 diangkat pernyataan-pernyataan orang-orang sukses mengelolah waktu. Hasan Al Bashri rahimahullah misalnya berkata,” Tak ada hari yang datang dari hari-hari dunia kecuali ia berkata, “ Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah hari yang baru, dan sesungguh aku akan menjadi saksi atas setiap perbuatan yang dilakukan di dalamku. Aku,kalau matahari telah tenggelam, tidak akan kembali lagi kepada kalian hingga hari kiamat. Jika kamu mengetahui ini, maka janganlah sekali-kali kamu tertipu dan terus menerus dalam kemalasan, serta terjebak oleh hawa nafsu. Akan tetapi, bersungguh-sungguhlah untuk menebusnya dan melepaskannya dari belenggu sankar,”.
Hal yang sama juga dinasihatkan Ibnu Abi Dunya, dari Bakar Ghiza, bahwa ia berkata,” Tidak ada hari yang Allah keluarkan kepada penduduk bumi kecuali ia memanggil,” Wahai anak Adam, pergunakanlah aku karena bisa jadi tidak ada lagi hari untukmu setelahku,” dan tidak ada malam kecuali dia memanggil,” Wahai anak Adam, pergunakanlah aku karena bisa jadi tidak ada lagi malam untukmu setelahku.”
Umar bin Dzar juga mengigatkan kita untuk selalu mengisi hari dan malam kita, tidak malah tertipu dan terus terlena. Ia berkata,” berbuatlah dan beramallah untuk diri kalian, semoga Allah merahmati kalian di malam ini dan kegelapannya. Karena sesungguhnya orang yang tertipu itu adalah orang yang tertipu dari kebaikan malam dan siang, dan orang yang dicegah adalah orang yang dicegah dari kebaikan keduanya. Sesungguhnya keduanya diciptakan hanyalah sebagai jalan bagi orang-orang beriman untuk menaati Rabbya, dan sebagai ujian bagi yang lain untuk lalai terhadap diri mereka sendiri. Hidupkanlah diri kalian karena Allah dengan dzikir kepada-Nya, karena hati itu hanya akan hidup dengan dzikir kepada Allah. Betapa banyak orang yang bangun untuk Allah di malam ini, kelak ia akan bergembira ketika bangun di kegelapan liang kuburnya, dan betapa banyak orang yang tidur dimalam ini, kelak akan menyesali tidurnya yang panjang saat ia melihat pemuliaan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Maka pergunakanlah setiap detik perjalanan jam, malam dan hari agar Allah merahmati kalian.”
Malik bin Dinar berkata, bahwa Isa as bersabda,” Sesungguhnya malam dan siang adalah dua buah lemari, maka perhatikanlah apa yang kalian perbuat di dalamnya.” Ia juga berkata,” beramallah di waktu malam sesuai yang ia diciptakan dengannya, dan beramallah di waktu siang sesuai dengan yang ia diciptakan dengannya.”
Walaupun tidak secara tekstual sebagaimana di sebutkan diatas, tetapi -InsyAllah- intisari pesan yang saya sampaikan dalam tausiah tersebut. Lebih dari itu, mengingatkan kepada seluruh jamaah untuk mempersiapkan hari esok. Baik di dunia maupun di kampung akhirat. Di dunia, tentunya persipan untuk hari esok mengenai pendidikan anak-anak agar memperhatikan pada zamannya masing-masing. Di kampung akherat, kita juga perbanyak bekal dengan amal-amal shaleh. Dalam peristiwa pergantian tahun hijriah ini pula kita harus berhijrah. Hijrah dari tidak shalat menjadi aktif shalat, hijrah dari malas belajar menjadi rajin balajar, hijrah dari kemaksiatan menjadi amal-amal shaleh. Hijrah dari ketamakan menjadi qanaah.
Di akhir tausiah, saya sampaikan kepada jamaah tentang surat Al-Ashri. Yang mana, dalam surat tersebut Allah bersumpah tentang waktu. Lalu, dinyatakan pula oleh Allah swt bahwa sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi kecuali orang yang beriman, beramal shaleh, nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Imam as-syahid Hasan Albanna pernah mengungkapkan kata-kata mutiara,” sesungguhnya kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia.”
Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung,sebagaimana mereka yang sukses mengelolah waktunya dengan baik. amin.
Read more »

Memperbaiki Konstruksi Sosial

Oleh : Musheni,S.Pd.I (Sekum PKS Muba)

Suatu ketika, saya berbincang-bincang dengan teman satu profesi -pendidik-. Dalam perbincangan tersebut diungkapkanlah tentang aktivitas saya yang sering menulis di kolom tulisan kitek ( Harian Musi Banyuasin ). Ada satu kata yang menurut saya harus diklarifikasi yakni sebuah pertanyaan sahabat saya tersebut,” apakah sudah ada kontrak ( maksudnya Harian MuBa ) sehingga tulisan sering muncul ?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya tidak berpikir panjang. Saya katakan “tidak,”. Tetapi, pimpinannya saya kenal. Melalui pertanyaan itulah, akhirnya saya berusaha mencoba menjawab secara tertulis tentang hal itu.
Persuasif dan advokatif
Menulis adalah kegiatan menggerakkan jari-jemari diatas keyboard. Ia adalah sebuah proses gerak dan olah pikir,rasa serta karsa. Ia adalah sebuah ciri peradaban. Bahkan, ada kata-kata mutiara yang cukup menggugah,” peradaban lahir karena adanya tulisan”. Lebih dari itu, menulis memang sebagai lambang kemampuan untuk melakukan re-organisasi terhadap temuan-temuan yang pernah kita alami. Kalau dalam istilah orang arab Al ilmu ka shaidi wal kitabatu qayduhu ( ilmu bagaikan binatang buruan dan buku alat penjaringya ). Jadi, ada sebuah usaha untuk merajut jaring-jaring yang terputus sehingga menjadi jaring yang utuh dan siap mengingkat ilmu.
Menulis dan mengirimkannya ke sebuah koran adalah kegiatan yang cukup rumit. Mulai dari mencari topik hingga tekhnis menulis dan mengirimkannya via email ke harianmusibanyuasin@yahoo.co.id sesudah saya menuliskan di notebook, saya juga masih harus mencari warnet untuk kirim tulisan sambil berselancar pula di dunia maya. Tapi itu semua mengasyikan, saya mencintai aktivitas tersebut. Lebih-lebih, saya tahu betul proses bagaimana sebuah koran itu hadir didepan pembaca. Proses penulisan, editing oleh pimpinan redaksi kemudian melewati lay outer. Dari lay outer isi tulisan koran akan di cetak di atas transper - flat. Baru kemudian, mesin-mesin cetak akan memproduksi sesuai dengan keinginan oplahnya. Rumit dan memang tidak semudah yang kita bayangkan serta membutuhkan biaya yang cukup besar. Tapi, media mampu untuk itu.
Menulis di kolom opini membutuhkan kesungguhan mental. Mengapa tidak ? bila menulis tentang sebuah topik misalnya “ Eksistensi Tanah Ulayat” atau “ Dimana-Dimana...!Tanah Ulayat ?” tentunya banyak para pakar pertanahan ( pemerintah dan legislatif ) menertawakan karena menurutnya tidak “benar”. Sebaliknya, masyarakat umum membacanya tidak nyambung makna dan tujuan tulisan tersebut. Jadi, bila menulis dalam kolom opini ada dua kemungkinan itulah yang paling besar,selebihnya mengakui kebenaran apa yang disampaikan. Tulisan saya di HMB sejak 5 Januari 2009 hingga sekarang tidak kurang 30 lebih judulnya. Tetapi, tidak pernah saya mendapatkan kritikan secara langsung melalui artikel terutama mengenai esensi permasalahan yang diketenggahkan. Hanya ada kritikan di kolom sms yakni artikel berjudul “Bahaya Laten Togelisme”. Yang kritik bilang, semua orang pada tahu tentang hal itu Togel, Cuma bagaimana agar orang miskin bisa sejahtera. Jangan menyalahkan warga yang pasang togel. Itulah kira-kira bunyi pesan singkat yang dimuat di harian Musi Banyuasin.
Aktivitas menulis dalam kolom opini adalah aktivitas persuasif terhadap kebijakan publik apa yang dituliskan tersebut. Menulis dalam kerangka persuasif tentunya bertujuan agar adanya kesamaan persepsi antara kebijakan publik dengan kebutuhan publik. Hampir bisa dikatakan bahwa menulis adalah usaha-usaha untuk mengadvokasi terhadap substansi dari pembahasan. Tulisan opini menghendaki adanya sebuah perubahan kebijakan sesuai dengan inventarisasi ‘fakta’ yang di kemukakan. Walaupun advokasi melalui kolom opini tidak sebesar gong bila advokasi dilapangan seperti demonstrasi. Melakukan organisir terhadap orang-orang yang bersentuhan secara langsung atas korban kebijakan. Dengan demikian jelas bahwa tulisan yang bertujuan mendorong agar kebijakan berpihak kepada kepentingan wong cilik-kaum dhuafa-kaum marginal.
Berkenaan dengan itu, Peter Berger menyatakan bahwa sebagian besar penyebab penderitaan umat manusia dikarenakan adanya suatu konstruksi sosial yang timpang yang hanya menguntungkan mereka yang mendominasi arena kebijakan publik ( Berger,1970 : 3 dalam Ganda Upaya dalam artikel Demokrasi Elektoral, Kemiskinan dan Gerakan Sosial ). Mengutif Amartya Sen, Ganda Upaya juga menuliskan bahwa warga masyarakat yang marginal sangat membutuhkan ruang publik yang lebih bebas untuk mengungkapkan aspirasi politik mereka ( 2000:3 ). Lebih lanjut Sen menyatakan bahwa tanpa adanya “ voice of the poor” ( suara kaum miskin ) maka kebijakan publik dapat diperkirakan jauh dari aspirasi kelompok miskin. Sehingga akan berakibat merebaknya kemiskinan di dalam suatu masyarakat.
Di era transisi demokrasi saat ini, keterlibatan warga di dalam proses perencanaan pembangungan menjadi suatu hal yang esensial. Kegagalan pembangunan dan pengurangan penduduk miskin adalah disebabkan diabaikannya aspirasi masyarakat marginal oleh kaum teknokrat. Para teknoktrat merasa lebih tahu apa yang yang terbaik bagi rakyat banyak. Bagi rakyat miskin, kebijakan yang tidak responsif terhadap kepentingan mereka telah menimbulkan penderitaan. Secara politis menunjukkan betapa lemahnya aspek transparansi dari kinerja pemerintah daerah dan ketidak mampuan masyarakat sipil untuk menuntut akuntabilitas dari elit politik lokal. Makanya, bila kita perhatikan dalam etika sosial yang diberikan Islam adalah egalitarianisme---semua anggota keimanan itu, tidak perduli warna kulit, ras, dan dan status sosial atau ekonominya adalah partisipasi yang sama dalam komunitas ( Madjid,1991 : 71 ).
Pada akhirnya, tulisan ini bermaksud menjelaskan bahwa menulis kolom opini merupakan bagian dari usaha untuk melakukan advokasi atau pembelaan terhadap suara-suara yang tidak mau atau tidak berani menyuarakannya di muka publik. Harapannya, pengambil kebijakan mau dan mempertimbangkan berbagai masukan dan aspirasi kaum marginal. Di sisi lain, terkadang juga muncul ide-ide yang memberikan spirit perubahan kolektif atau kultur masyarakat. Dengan demikian, kegiatan menulis di ruang publik mempunyai timbal balik yang harus seimbang. Terkadang menyampaikan kritik keatas (pemerintah,legislatif dan yudikatif ), juga menawarkan perbaikan secara horizontal ( sosial masyarakat ) yang tentunya juga membutuhkan dukungan kebijakan dari pemegang kebijakan. Sekali lagi, peluang perbaikan dalam berbagai sarananya harus kita manfaatkan semaksimal mungkin. Bentuk kontribusi yang bisa kita lakukan adalah mendorong agar media cetak /elektronik mau mendidik dan mengayomi masyarakat serta memberikan ruang kepada kaum marginal untuk menyuarakan kepentigannya. Dan kita harus siap serta memperluas partisipasi di dalamnya.
Harian Musi Banyuasin, 31 Januari 2011
Read more »

 

BERITA DPD

INFO DPW

KOLOM